About Me
- MAK
- Muh. Ardian Kurniawan (MAK), tinggal di Kampung Melayu, Ampenan. Menggemari bahasa dan sastra. Email: mido-ardian@yahoo.com/ 666ardian666@gmail.com
Blog Archive
-
2011
(13)
-
April(10)
- Aku Lupa Mencatat Hari Kematianku
- Kutunggu Kau di Sini
- Koma dan Koma
- "Bung Karno! Kau dan Aku Satu Zat..."
- Kalila wa Dimna, Dongeng Fabel Menarik dari Dunia ...
- Di Perjalanan Solo-Yogyakarta, Pagi Hari
- Di Dermaga Padang Bae, Sesaat Sebelum Berangkat
- Nasionalisme dalam Sastra Indonesia
- Pengertian Bahasa dan Sosiolinguistik
- Cinta Episode III
- Maret(3)
-
April(10)
- 2010 (9)
Diberdayakan oleh Blogger.
Sabtu, 09 April 2011
Aku Lupa Mencatat Hari Kematianku
Aku lupa mencatat hari kematianku. Sudah genap sebelas tahun kini. Dan tahun baru menyambutku dengan lolongan. Dengan dua kali gemuruh pencaloan.
Masih saja terpekur memikirkan nasib bangsaku.
Aku lupa mencatat hari kematianku. Mungkin karena kelahiranku dahulu tak dipersiapkan, tanpa salam. Pelecehan menjadi bumbu keonaran. Yang saban hari muncul di layar-layar siaran televisi; bersahut-sahutan dengan radio yang terus saja mencabik-cabik gendang telinga. Dan dengan berdebum aku terempas ke dalam kuburan. Mati.
Tidak lama setelah aku dilahirkan.
Di sini dimakamkan…
Aku lupa mencatat namaku dalam akte kelahiran. Saat kudaftar kantor kelurahan tengah tutup menyiapkan tuan baru yang akan datang. Ketika kulihat selebaran, aku teringat dilahirkan oleh keonaran. Dan berbuah sengkarut zaman. Bibitnya ternyata masih yang dahulu juga. Pantas manis rasanya dikibuli oleh keturunan bapak yang sama. Mungkin kemarin dulu ibuku alpa melempar ketuban yang pecah. Sehingga aku lahir dengan wajah bopeng.
12 Mei 1998. Reformasi.
Pasca-reformasi
Setelahnya aku mendekam dalam kuburan. Sebagai mayat. Di luar keluar Dajjal yang dikira Imam Mahdi dengan celana rombeng diarak keliling istana. Zaman lupa mencatat hari itu sebagai kelalaian sejarah.
Mei 2009
Masih saja terpekur memikirkan nasib bangsaku.
Aku lupa mencatat hari kematianku. Mungkin karena kelahiranku dahulu tak dipersiapkan, tanpa salam. Pelecehan menjadi bumbu keonaran. Yang saban hari muncul di layar-layar siaran televisi; bersahut-sahutan dengan radio yang terus saja mencabik-cabik gendang telinga. Dan dengan berdebum aku terempas ke dalam kuburan. Mati.
Tidak lama setelah aku dilahirkan.
Di sini dimakamkan…
Aku lupa mencatat namaku dalam akte kelahiran. Saat kudaftar kantor kelurahan tengah tutup menyiapkan tuan baru yang akan datang. Ketika kulihat selebaran, aku teringat dilahirkan oleh keonaran. Dan berbuah sengkarut zaman. Bibitnya ternyata masih yang dahulu juga. Pantas manis rasanya dikibuli oleh keturunan bapak yang sama. Mungkin kemarin dulu ibuku alpa melempar ketuban yang pecah. Sehingga aku lahir dengan wajah bopeng.
12 Mei 1998. Reformasi.
Pasca-reformasi
Setelahnya aku mendekam dalam kuburan. Sebagai mayat. Di luar keluar Dajjal yang dikira Imam Mahdi dengan celana rombeng diarak keliling istana. Zaman lupa mencatat hari itu sebagai kelalaian sejarah.
Mei 2009
Label:
Puisi
|
0
komentar
Rabu, 06 April 2011
Kutunggu Kau di Sini
: Kong & Janet
Kawan, kutunggu kau di sini. Bawakan aku tempe goreng yang telah diragi dengan bumbu yang kering. Kriuknya akan mengirimkan lapar pada perutku yang keroncongan. Ramuannya haruslah milik ibuku, sebab ada satu bumbu yang ia campur dengan sepenuh hati pada lauk itu. Cintanya yang suci membuaiku sejak bayi hingga kini; itu yang mengenyangkanku.
Kawan, aku tak akan berlari, melainkan hanya berjalan kaki. Hingga bisa kau dengar setiap napasku. Nanti kau pun tahu lapuk keringatku yang berpegang pada akar-akar rambut itu; perlahan ia menetes dan tak kuseka hingga kau tahu pertanda, arahku. Di sanalah pemberhentianku, di lubuk hatimu.
Kawan, bila saja kau di sini, ada banyak hal yang tidak pernah kita sempat pertanyakan. Dan sekarang semuanya mengalir terbawa arus air Kali Code.
Kutunggu kau di sini.
Label:
Puisi
|
0
komentar
Koma dan Koma
Jodhi Yudono | Minggu, 27 Maret 2011 | 09:17 WIB

Bre Redana
Kami bertumbuh bersama Teater Koma. Ketika kelompok ini mulai beranjak naik pada awal tahun 1980-an, di panggung kami melihat Ratna Riantiarno, Sari Madjid, Priyo S Winardi, Taufan Chandranegara, Salim Bungsu, Rita Matu Mona, dan lain-lain, dalam gairah kemudaan mereka.
Kini, setelah sekitar 30 tahun, atau tepatnya 34 tahun terhitung sejak Teater Koma didirikan 1 Maret 1977, meski semua saja tentu bertambah tua—aduh, 30 tahun usia bertambah—tetap tak hilang kegairahan berteater, kegairahan berkesenian itu. Ditambah kerutinan pentas, pengalaman, dan dedikasi, Teater Koma makin kelihatan menemukan kewajaran dengan bentuk yang dipilihnya. Seperti muara hidup, yakni kewajaran, begitulah Teater Koma sekarang.
Panggung kian jadi milik mereka. Panggung telah menjadi bagian dari diri mereka untuk mengomunikasikan diri secara apa adanya, mempertautkan rasa dari mereka yang di panggung dengan yang menonton. Itulah beda menonton teater, pertunjukan panggung, dengan menonton film. Dalam bahasa Rendra dulu, dalam film yang terjadi adalah komunikasi image. Bayangan. Sementara di panggung yang terjadi adalah komunikasi antarmanusia, berdarah daging, rasa. Tak ada yang bisa ditipu. Orang tak bisa berpura-pura menjadi wajar—kalau tidak ingin berisiko kelihatan kurang wajar.
Menonton apa yang terjadi di panggung dari pertunjukan mereka Maret ini di TIM, Sie Jin Kwie Kena Fitnah, terbayang apa yang dilakoni teman-teman ini di belakang panggung, dalam kehidupan sehari-hari. Yakni kesetiaan. Dedikasi. Yang pada gilirannya meneteskan contoh, memunculkan generasi berikut. Di panggung kini muncul Rangga, putra pasangan juragan Teater Koma, Riantiarno-Ratna. Perawakannya besar, tinggi, melebihi ukuran rata-rata orang Indonesia. Semasa Teater Koma masih bersanggar di Jalan Setiabudi, tahun 1980-an, Rangga masih kecil, mengintip-intip latihan.
Dalam Sie Jin Kwie sekarang dia memegang peran utama sebagai tokoh Jin Kwie, sepanggung dengan tantenya, Sari Madjid. Juga dengan pemain-pemain lain, yang kemungkinan ia panggil oom dan tante.
Cerita klasik
Pertunjukannya bagus. Artistik, skenografi, digarap Syaeful Anwar dan Onny. Yang disebut pertama itu dari dulu sudah sering mengurusi soal ini bagi Teater Koma. Dia hafal dan fasih menjawab apa yang dibutuhkan. Begitu pun penataan cahaya, oleh Donny Birkoed. Tak ada yang lebih, tak ada yang kurang.
Penonton senang, tertawa-tawa, terhibur sejak lampu gedung dipadamkan dan pertunjukan dimulai. Mereka tertawa-tawa dengan pagelaran wayang tavip di panggung, yang didalangi M Tavip yang kocak. Dalang lain adalah Budi Ros—juga pemain lama. Pertunjukan ini memadukan opera china, boneka potehi, golek menak, wayang wong, selain wayang tavip tadi. Sutradara Riantiarno punya kedekatan dengan kesenian rakyat seperti itu. Dia berasal dari Cirebon, daerah yang kaya dengan kesenian rakyat, seperti tarling, sandiwara, dan akrobat genjring. Di sekitar tempat tinggalnya, pada bulan Agustus, ia sering memasang berbagai umbul-umbul, meriah—seperti jiwanya.
Sie Jin Kwie diangkat dari cerita klasik China, pertengahan abad ke-7 pada zaman Dinasti Tang. Raja muda Sie Jin Kwie dikhianati sehingga Kaisar Tang Lisibin menjatuhkan hukuman mati terhadapnya. Karena pembelaan orang-orang yang mengetahui kesetiaan Jin Kwie kepada raja dan kerajaan, hukuman mati ditunda.
Cerita itu ditampilkan dalam pertunjukan sepanjang empat jam. Seperti kebiasaan Teater Koma, pertunjukan diwarnai sindiran-sindiran terhadap keadaan masyarakatnya, yang mengundang gerrr.
Ruang kebudayaan
Zaman memang berubah kini. Tempat di mana mereka biasa berpentas, TIM, makin kelihatan usang. Namun, Teater Koma tak kehilangan komunitasnya. ”Branding” telah terbentuk. Komunitas baru selalu muncul. Ada yang menonton lebih dari satu kali. Bukan semua mereka dari lingkungan ”kesenian serius”. Pemegang merek Louis Vuitton, Inka Wardhana, itu misalnya, adalah penonton setia kelompok ini. Tanpa peduli dengan asal-usul teater modern, dia menyebut pertunjukan ini ”lenong”. Kalau dia bilang mau ke TIM nonton lenong, maksudnya adalah nonton Teater Koma. Sopirnya sering keliru mengira ke PIM—Pondok Indah Mal. Teater Koma telah mengisi transisi kebudayaan urban kontemporer yang mengalami kekosongan; setelah yang didefinisikan sebagai kesenian tradisional, seperti wayang orang Bharata dan Srimulat, tak mampu lagi bertahan.
Di tengah kekenesan pertunjukan musikal dengan tiket mahal, Teater Koma setia pada pilihannya. Pada pertunjukan musikal yang ramai belakangan, yang muncul adalah kekenesan. Para artis pendukung hidup dengan semangat industrial. Pengalamannya pengalaman sinetron. Komunikasi mereka komunikasi editing, bukan komunikasi berdarah daging. Kontak rasa dan kesadaran ruang secara konkret tidak ada. Ini kritik dan otokritik. Mustahil ada pertunjukan bagus dengan kondisi macam demikian, Bung.
Berbeda dari para seniman teater yang lebur dalam ruang dan waktu di mana mereka menempa kepekaan. Para seniman Teater Koma—sebagaimana para pekerja teater lain yang tak banyak jumlahnya kini—adalah orang yang setia pada jalan kesenian mereka. Kadang, di Jalan Cempaka yang sepi di tengah malam, terlihat beberapa pemain berjalan keluar dari rumah Riantiarno yang sekaligus adalah sanggar mereka. Mereka berasal dari berbagai kalangan, termasuk pedagang di pasar burung Jakarta Timur.
Koma, diartikan sebagai tanda baca, semoga seperti dikatakan Ratna Riantiarno yang selalu manis itu, tetap merupakan koma, bukan titik. Terus berjalan, mengisi ruang kebudayaan masyarakat urban, yang kian kering dan beratmosfer industrial.
Disadur dari: http://oase.kompas.com
Label:
Berita Bahasa dan Sastra
|
0
komentar
"Bung Karno! Kau dan Aku Satu Zat..."
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin djandji
Aku sudah tjukup lama dengar bitjaramu
dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu
Dari mulai tgl 17 Agustus 1945
Aku melangkah kedepan berada rapat disisimu
Aku sekarang api, aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat, satu urat
Di zatmu, di zatku, kapal2 kita berlajar
Di uratmu, di uratku, kapal2 kita bertolak & berlabuh
Kutipan di atas adalah puisi karya penyair Chairil Anwar (1922-1949) berjudul Perdjandjian Dengan Bung Karno yang ditulis tahun 1948. Naskah asli tulisan tangan sang penyair itu masih tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.
Dalam versi aslinya itu, kata ”lama” pada baris kedua tertulis mencuat dan terjepit di antara kata ”tjukup” dan ”dengar”. ”Aku sudah cukup ”lama” dengar bitjaramu....” Di bawah kata itu terdapat contrengan. Ada kesan kata ”lama” sempat lupa tercantumkan. Tentu ini hanyalah penafsiran atas teks asli. Yang jelas, begitulah naskah asli puisi disimpan dan bisa kita nikmati sebagai dinamika zaman perjuangan yang terekam lewat puisi, yang oleh HB Jassin kemudian digolongkan sebagai Angkatan ’45.
Gelegak revolusi itu terekam benar lewat tulisan tangan Chairil. Dan di sanalah, di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, gelegak ”api” dan ”laut” Chairil itu tersimpan. Sungguh memprihatinkan dokumentasi semangat zaman itu dalam kondisi merana terbengkalai sekarang.
Sesudah Chairil Anwar meninggal tahun 1949, karyanya menjadi rebutan para penerbit. Namun, Chairil sudah mengumpulkan sendiri karya-karya sajaknya dan diserahkan kepada PDS HB Jassin.
Surat cinta Motinggo
PDS HB Jassin tidak sekadar menjadi ”gudang” karya sastra, tetapi juga dinamika kehidupan para pelaku sastra dari zaman ke zaman. Jassin memang rajin mengumpulkan tulisan tangan, catatan kecil dan surat-surat yang ditulis para penulis. Surat pernyataan Motinggo Boesje yang asli dengan judul ”Saya Menolak Hadiah Sastra 1962” masih tersimpan di PDS HB Jassin.
Surat pernyataan yang ditulis bulan Januari 1953 itu berisi penolakan Motinggo atas hadiah sastra yang diberikan untuk cerita pendeknya. Menurut dia, ukuran keberhasilan karya sastra tidak dapat diukur dari penghargaan-penghargaan yang diperoleh.
Kisah hidup penulis flamboyan ini juga terungkap dari catatan-catatan kecil yang dikirimkan Mas Mot (panggilan untuk Motinggo Boesje) kepada beberapa perempuan. Dalam catatan itu, Mas Mot menulis puisi cinta lengkap dengan lukisan sketsa ketika sedang rindu, menyesal, atau kangen kepada sang kekasih.
Mari kita baca puisi Motinggo Boesje yang juga ditulis tangan, lengkap dengan ilustrasi bunga-bunga. Kita kutip bait pertama dan terakhir dari puisi karya novelis, cerpenis, dan sutradara itu. Di bawah puisi itu tertera angka tahun 1988.
”Inilah buah indah rasa bersalah/Penyesalan ibarat memindah dua gunung/Masih saja membayang tangismu pagi itu/Air matamu membasuh hati yang berdebu...”
”Sudahlah. Kesekian kali kumohon maafmu/Matamu bagaikan malam dengan dua lampu.”
Jassin menyimpan naskah-naskah yang dikirimkan para pengarang ini dengan takzim, seolah itu amanat yang tidak bisa diabaikan. Sungguh ironis jika kemudian kita membiarkannya tanpa arti, bahkan menganggapnya sebagai coretan berdebu tak bermakna. Dan pengelola PDS HB Jassin, Endo Senggono, mengaku belum semua naskah asli itu disimpan dalam bentuk digital. ”Belum. Masih dalam map begitu saja,” katanya.
Tidak hanya karya sastra. Jassin juga menyimpan dokumen, seperti undangan perkawinan Motinggo dengan Lashmi Bachtiar pada 2 September 1962. Pada keterangan ”Djam” dan tempat tertulis: ”Djam 12.00 s/d 15.00 siang di Djalan Salemba Tengah II No 7 Djakarta”. Nama Motinggo dalam undangan tertulis sebagai Bustami Djalid. Di belakang nama itu tercantum nama senimannya, Motinggo Busje (ejaan sesuai dengan aslinya).
HB Jassin tidak hanya menyimpan, tetapi juga mencatat dengan sangat detail peristiwa berkait dengan sastra dan para pelakunya. Kita tengok bagaimana sepotong kehidupan Pramudya Ananta Toer tercatat dalam buku harian.
Pada hari Kamis 1 Maret 1954, misalnya, HB Jassin menulis, kunjungan Pramudya Ananta Toer pada pukul 19.30-20.15 di rumah Jassin. Pramudya yang baru pulang dari Blora, Jawa Tengah, ini membawa naskah cerita perjalanan. Dari catatan harian itu tergambar dinamika kehidupan penulis Pramudya atau Pram pada masa lalu. Ceritanya, Pram sedang butuh uang segera. Ia sudah memasukkan tulisan perjalanan ke majalah Mimbar, tetapi majalah itu tidak bisa segera membayar honornya. Tulisan Pram itu dirasa Jassin cocok untuk majalah Zenith, tetapi majalah ini sering terlambat terbit.
Setidaknya kita bisa merekonstruksi, betapa pilihan hidup sebagai pengarang seperti Pram penuh dengan kenyataan pahit. Sesungguhnya celaka jika nasib dokumentasi mereka pun kini kita abaikan.
Merana
Dokumen kebudayaan itu tersimpan di antara buku-buku sastra, prosa dan puisi, naskah drama, catatan biografi, tulisan tangan, dan surat-menyurat sastrawan besar di Tanah Air. Sebagian dokumen tersimpan di rak yang berderet memenuhi ruangan, sebagian lagi dibiarkan menumpuk begitu saja.
Tumpukan koran dan majalah tua berjubel di sela-sela rak buku yang sudah tidak muat lagi menyimpan tambahan koleksi. Kondisinya berdebu. Kertasnya sudah lapuk dan berwarna kuning kecoklatan. Benda-benda itu seperti benda bekas yang sudah usang. Sementara di dalamnya tersimpan jejak sejarah yang mencerminkan cara berpikir intelektual kita pada masa lalu.
Di antara tumpukan tadi masih bisa ditemukan majalah yang terbit di Indonesia pada awal Perang Dunia II (tahun 1940), seperti Pujangga Baru dan Panji Pustaka. Ada juga majalah Jawa Baru dan Kebudayaan Timur yang terbit di Indonesia pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Koleksi lain yang lebih tua, seperti Kumpulan Sastra Melayu Tionghoa terbitan tahun 1900-1940, tersimpan di dalam sebuah lemari kaca.
Dengan ribuan buku, suasana pusat budaya itu sangat pengap. ”Sudah biasa kalau pengatur suhu udara di sini dimatikan. Dulu ketika pertama kali pusat dokumentasi ini resmi didirikan tahun 1977, enam bulan kemudian kami tidak mampu membayar listrik sehingga AC harus dimatikan total,” kata Harkrisyati Kamil atau Yati, yang pernah menjadi Kepala Dokumentasi PDS HB periode 1979-1983 mengenang.
Agar suhu di ruang dokumentasi tidak panas, Yati dan teman-temannya selalu membuka jendela lebar-lebar, lalu menyalakan kipas angin. ”Untungnya, waktu gedung itu dibangun, saya minta Pemerintah DKI Jakarta membuatkan jendela-jendela berukuran besar,” tutur Yati. Menurut Yati, gedung PDS HB Jassin yang dibangun pada masa Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta itu awalnya dirancang tanpa jendela.
Dirintis
Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dirintis oleh penulis, penyunting, dan kritikus sastra almarhum Hans Bague (HB) Jassin. Penulis kelahiran Gorontalo, 13 Juli 1917, ini mengumpulkan dokumentasi sejak tahun 1930. Pada waktu ia masih berusia 13 tahun, HB Jassin gemar menyimpan buku-buku harian, buku-buku sekolah, karangan-karangan yang pernah ditulis di kelas, hingga surat dan foto pribadinya.
Kini pusat dokumentasi itu menyimpan 16.316 judul buku fiksi, 11.990 judul buku nonfiksi, 457 judul buku referensi, 772 judul buku/naskah drama, 750 map berisi biografi pengarang, 15.552 map kliping dari berbagai sumber, 610 lembar foto pengarang, 571 judul makalah, 630 judul skripsi dan disertasi, serta 732 kaset rekaman suara dan 15 kaset rekaman video dari para sastrawan Indonesia. Jumlahnya terus bertambah karena pengelola selalu memperbanyak koleksi. Boleh dibilang, PDS HB Jassin adalah pusat dokumentasi sastra modern Indonesia terlengkap. Bahkan, ada yang menyebutnya terlengkap di dunia, tetapi kenapa nasibnya begitu mengenaskan? (Lusiana Indriasari/Luki Aulia/Putu Fajar Arcana/Frans Sartono)
Disadur dari: http://oase.kompas.com
Aku sudah tjukup lama dengar bitjaramu
dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu
Dari mulai tgl 17 Agustus 1945
Aku melangkah kedepan berada rapat disisimu
Aku sekarang api, aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat, satu urat
Di zatmu, di zatku, kapal2 kita berlajar
Di uratmu, di uratku, kapal2 kita bertolak & berlabuh
Kutipan di atas adalah puisi karya penyair Chairil Anwar (1922-1949) berjudul Perdjandjian Dengan Bung Karno yang ditulis tahun 1948. Naskah asli tulisan tangan sang penyair itu masih tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.
Dalam versi aslinya itu, kata ”lama” pada baris kedua tertulis mencuat dan terjepit di antara kata ”tjukup” dan ”dengar”. ”Aku sudah cukup ”lama” dengar bitjaramu....” Di bawah kata itu terdapat contrengan. Ada kesan kata ”lama” sempat lupa tercantumkan. Tentu ini hanyalah penafsiran atas teks asli. Yang jelas, begitulah naskah asli puisi disimpan dan bisa kita nikmati sebagai dinamika zaman perjuangan yang terekam lewat puisi, yang oleh HB Jassin kemudian digolongkan sebagai Angkatan ’45.
Gelegak revolusi itu terekam benar lewat tulisan tangan Chairil. Dan di sanalah, di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, gelegak ”api” dan ”laut” Chairil itu tersimpan. Sungguh memprihatinkan dokumentasi semangat zaman itu dalam kondisi merana terbengkalai sekarang.
Sesudah Chairil Anwar meninggal tahun 1949, karyanya menjadi rebutan para penerbit. Namun, Chairil sudah mengumpulkan sendiri karya-karya sajaknya dan diserahkan kepada PDS HB Jassin.
Surat cinta Motinggo
PDS HB Jassin tidak sekadar menjadi ”gudang” karya sastra, tetapi juga dinamika kehidupan para pelaku sastra dari zaman ke zaman. Jassin memang rajin mengumpulkan tulisan tangan, catatan kecil dan surat-surat yang ditulis para penulis. Surat pernyataan Motinggo Boesje yang asli dengan judul ”Saya Menolak Hadiah Sastra 1962” masih tersimpan di PDS HB Jassin.
Surat pernyataan yang ditulis bulan Januari 1953 itu berisi penolakan Motinggo atas hadiah sastra yang diberikan untuk cerita pendeknya. Menurut dia, ukuran keberhasilan karya sastra tidak dapat diukur dari penghargaan-penghargaan yang diperoleh.
Kisah hidup penulis flamboyan ini juga terungkap dari catatan-catatan kecil yang dikirimkan Mas Mot (panggilan untuk Motinggo Boesje) kepada beberapa perempuan. Dalam catatan itu, Mas Mot menulis puisi cinta lengkap dengan lukisan sketsa ketika sedang rindu, menyesal, atau kangen kepada sang kekasih.
Mari kita baca puisi Motinggo Boesje yang juga ditulis tangan, lengkap dengan ilustrasi bunga-bunga. Kita kutip bait pertama dan terakhir dari puisi karya novelis, cerpenis, dan sutradara itu. Di bawah puisi itu tertera angka tahun 1988.
”Inilah buah indah rasa bersalah/Penyesalan ibarat memindah dua gunung/Masih saja membayang tangismu pagi itu/Air matamu membasuh hati yang berdebu...”
”Sudahlah. Kesekian kali kumohon maafmu/Matamu bagaikan malam dengan dua lampu.”
Jassin menyimpan naskah-naskah yang dikirimkan para pengarang ini dengan takzim, seolah itu amanat yang tidak bisa diabaikan. Sungguh ironis jika kemudian kita membiarkannya tanpa arti, bahkan menganggapnya sebagai coretan berdebu tak bermakna. Dan pengelola PDS HB Jassin, Endo Senggono, mengaku belum semua naskah asli itu disimpan dalam bentuk digital. ”Belum. Masih dalam map begitu saja,” katanya.
Tidak hanya karya sastra. Jassin juga menyimpan dokumen, seperti undangan perkawinan Motinggo dengan Lashmi Bachtiar pada 2 September 1962. Pada keterangan ”Djam” dan tempat tertulis: ”Djam 12.00 s/d 15.00 siang di Djalan Salemba Tengah II No 7 Djakarta”. Nama Motinggo dalam undangan tertulis sebagai Bustami Djalid. Di belakang nama itu tercantum nama senimannya, Motinggo Busje (ejaan sesuai dengan aslinya).
HB Jassin tidak hanya menyimpan, tetapi juga mencatat dengan sangat detail peristiwa berkait dengan sastra dan para pelakunya. Kita tengok bagaimana sepotong kehidupan Pramudya Ananta Toer tercatat dalam buku harian.
Pada hari Kamis 1 Maret 1954, misalnya, HB Jassin menulis, kunjungan Pramudya Ananta Toer pada pukul 19.30-20.15 di rumah Jassin. Pramudya yang baru pulang dari Blora, Jawa Tengah, ini membawa naskah cerita perjalanan. Dari catatan harian itu tergambar dinamika kehidupan penulis Pramudya atau Pram pada masa lalu. Ceritanya, Pram sedang butuh uang segera. Ia sudah memasukkan tulisan perjalanan ke majalah Mimbar, tetapi majalah itu tidak bisa segera membayar honornya. Tulisan Pram itu dirasa Jassin cocok untuk majalah Zenith, tetapi majalah ini sering terlambat terbit.
Setidaknya kita bisa merekonstruksi, betapa pilihan hidup sebagai pengarang seperti Pram penuh dengan kenyataan pahit. Sesungguhnya celaka jika nasib dokumentasi mereka pun kini kita abaikan.
Merana
Dokumen kebudayaan itu tersimpan di antara buku-buku sastra, prosa dan puisi, naskah drama, catatan biografi, tulisan tangan, dan surat-menyurat sastrawan besar di Tanah Air. Sebagian dokumen tersimpan di rak yang berderet memenuhi ruangan, sebagian lagi dibiarkan menumpuk begitu saja.
Tumpukan koran dan majalah tua berjubel di sela-sela rak buku yang sudah tidak muat lagi menyimpan tambahan koleksi. Kondisinya berdebu. Kertasnya sudah lapuk dan berwarna kuning kecoklatan. Benda-benda itu seperti benda bekas yang sudah usang. Sementara di dalamnya tersimpan jejak sejarah yang mencerminkan cara berpikir intelektual kita pada masa lalu.
Di antara tumpukan tadi masih bisa ditemukan majalah yang terbit di Indonesia pada awal Perang Dunia II (tahun 1940), seperti Pujangga Baru dan Panji Pustaka. Ada juga majalah Jawa Baru dan Kebudayaan Timur yang terbit di Indonesia pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Koleksi lain yang lebih tua, seperti Kumpulan Sastra Melayu Tionghoa terbitan tahun 1900-1940, tersimpan di dalam sebuah lemari kaca.
Dengan ribuan buku, suasana pusat budaya itu sangat pengap. ”Sudah biasa kalau pengatur suhu udara di sini dimatikan. Dulu ketika pertama kali pusat dokumentasi ini resmi didirikan tahun 1977, enam bulan kemudian kami tidak mampu membayar listrik sehingga AC harus dimatikan total,” kata Harkrisyati Kamil atau Yati, yang pernah menjadi Kepala Dokumentasi PDS HB periode 1979-1983 mengenang.
Agar suhu di ruang dokumentasi tidak panas, Yati dan teman-temannya selalu membuka jendela lebar-lebar, lalu menyalakan kipas angin. ”Untungnya, waktu gedung itu dibangun, saya minta Pemerintah DKI Jakarta membuatkan jendela-jendela berukuran besar,” tutur Yati. Menurut Yati, gedung PDS HB Jassin yang dibangun pada masa Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta itu awalnya dirancang tanpa jendela.
Dirintis
Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dirintis oleh penulis, penyunting, dan kritikus sastra almarhum Hans Bague (HB) Jassin. Penulis kelahiran Gorontalo, 13 Juli 1917, ini mengumpulkan dokumentasi sejak tahun 1930. Pada waktu ia masih berusia 13 tahun, HB Jassin gemar menyimpan buku-buku harian, buku-buku sekolah, karangan-karangan yang pernah ditulis di kelas, hingga surat dan foto pribadinya.
Kini pusat dokumentasi itu menyimpan 16.316 judul buku fiksi, 11.990 judul buku nonfiksi, 457 judul buku referensi, 772 judul buku/naskah drama, 750 map berisi biografi pengarang, 15.552 map kliping dari berbagai sumber, 610 lembar foto pengarang, 571 judul makalah, 630 judul skripsi dan disertasi, serta 732 kaset rekaman suara dan 15 kaset rekaman video dari para sastrawan Indonesia. Jumlahnya terus bertambah karena pengelola selalu memperbanyak koleksi. Boleh dibilang, PDS HB Jassin adalah pusat dokumentasi sastra modern Indonesia terlengkap. Bahkan, ada yang menyebutnya terlengkap di dunia, tetapi kenapa nasibnya begitu mengenaskan? (Lusiana Indriasari/Luki Aulia/Putu Fajar Arcana/Frans Sartono)
Disadur dari: http://oase.kompas.com
Label:
Berita Bahasa dan Sastra
|
0
komentar
Kalila wa Dimna, Dongeng Fabel Menarik dari Dunia Muslim
Senin, 14 Maret 2011 11:01 WIB
REPUBLIKA.CO.IDKisah macam 'Kancil Mencuri Timur' juga dikenal di dunia Arab. Salah satu buku dongeng binatang yang dikenal Muslim sejak lama ialah "Kalila wa Dimna". Buku ini adalah salah satu karya terlaris selama dua ribu tahun dan hingga kini masih digemari banyak orang di dunia Arab.
Buku yang berarti Kalila dan Dimna--dinamai dari dua anjing hutan yang menjadi karakter utama--ditulis sebagai panduan dan instruksi pelayanan sipil. Kisah-kisahnya begitu menghibur hingga diterima di setiap kelas, menjadi dongeng rakyat di dunia Muslim. Orang Arab membawa kisah-kisah itu ke Spanyol, di sana buku tersebut diterjemahkan ke Bahasa Spanyol Tua, pada abad ke-13. Saat diterjemahkan ke dalam Bahasa Italia, itu merupakan kali pertama buku tampil dalam versi cetak, setelah mesin cetak ditemukan.
Kalila dan Dimna aslinya ditulis dalam Bahasa Sansekerta, diperkirakan dari Kashmir pada abad ke-4. Dalam Sansekerta buku ini disebut Panchatantra atau "Lima Wacana". Buku tersebut sebenarnya ditulis untuk tiga pangeran muda yang telah membuat guru mereka putus asa dan sang ayah terganggu.
Raja takut memercayakan kerajaannya ke para putranya yang tak mampu menguasai pelajaran paling mendasar. Raja mendatangi wazirnya yang bijaksana untuk meminta bantuan dan si wazir pun menulis Panchatantra. Buku itu mengungkapkan kebijaksanaan besar dalam kisah-kisah fabel binatang yang mudah dicerna.
Enam bulan kemudian para pangeran sudah berada di jalan kebijaksanaan. Ketika raja mangkat, mereka menggantikan kepemimpinan ayahnya dengan penuh keadilan.
Dua ratus tahun kemudian, seorang shah Persia mengutus dokter pribadinya, Burzoe, ke India untuk menemukan jenis herbal tertentu yang konon mampu menghadirkan kehidupan abadi bagi mereka yang memakannya. Alih-alih, Burzoe malah membawa satu salinan Panchatantra, yang ia klaim sama baiknya dengan herbal ajaib karena ia menghadirkan kebijaksanaan besar ke pembacanya.
Shah memerintahkan Burzoe mengalihbahasakan ke Pehlavi, bentuk kuno Bahasa Persia. Ia begitu menyukai buku itu hingga menyimpannya dalam satu ruang khusus di dalam istananya.
Tiga ratus tahun berselang, setelah Muslim menguasai Persia dan Timur Dekat, seorang Persia yang telah memeluk Islam, bernama Ibnu al Mukaffah, menemukan buku itu dalam bahasa Pehlavi terjemahan Burzoe. Ia pun mengalihbahasakan lagi ke Arab dengan gaya penuturan begitu mengalir hingga sampai sekarang orang masih menganggapnya model prosa asli Arab.
Keberadaan buku tersebut menyebar ke berbagai negara termasuk Yunani, yang menjadi cikal sumber terjemahan versi berbagai bahasa di Eropa, mulai Latin, Slavia dan Jerman. Sementara versi Bahasa Arabnya juga diterjemahkan ke Bahasa Ethopia, Suriah, Persia, Turki, Melayu, Jawa, Laos dan Siam. Pada abad ke-19 Kalila wa Dimna diterjemahkan ke Hindustan, dengan demikian melengkapi siklus yang dimulai 1.700 lalu di Kashmir.
Tidak semua versi adalah terjemahan sederhana. Buku itu sudah diperluas, diperpendek, mengalami modifikasi, penambahan dan penghilangan figur serta dipermak oleh sejumlah penerjemah dengan jumlah tak terhitung.
Salah satu kisah di bawah ini tidak termasuk dalam versi Sansekerta, juga tak ada di sebagian besar manuskrip Arab salinan Ibnu al Mukaffah, namun yang menarik ia telah memasuki daratan Eropa--masih dianggap dongeng dari Arab--dan menjadi kisah cukup terkenal di sana, berjudul "Memasang Bel ke Leher Kucing.
Cerita serupa mungkin bisa ditemukan di antologi dongeng lain, juga dalam Brothers Grimm. Bedanya, tikus-tikus Arab menyelesaikan masalah mereka jauh lebih tajam ketimbang sepupu mereka di barat. Berikut kisahnya.
Memasang Bel ke Leher Kucing
"Dahulu di tanah para Brahma terdapatlah sebuah rawa bernama Dawran yang membentang di semua penjuru dengan jarak ribuan kilometer. Di tengah rawa tersebut ada sebuah kota bernama Aydazinum. Kota itu memiliki banyak daya tarik, keistimewaan dan penduduknya sangat sejahtera hingga bisa mendapatkan apa pun yang mereka mau.
Dalam kota ada seekor tikus bernama Mahraz, ia memimpin seluruh tikus yang hidup di kota itu dan juga desa-desa di pinggir kota. Ia memiliki tiga wazir yang siap memberi nasehat untuk bermacam urusan.
Suatu hari para wazir berkumpul di hadapan raja tikus untuk mendiskusikan berargam masalah. Di tengah perbincangan, raja berkata, "Apakah mungkin membebaskan diri kita dari teror turun-menurun yang kita dan juga nenek moyang kita rasakan terhadap kucing?"
"Meski kita hidup nyaman dan memiliki banyak kesenangan dalam hidup, ketakutan kita terhadap Kucing telah melenyapkan semua kenikmatan tersebut. Saya harap kalian bisa memberi saran bagaimana mengatasi masalah ini. Apa yang kalian pikir harus kita lakukan?"
"Saran saya," ujar wazir pertama, "adalah mengumpulkan sebanyak mungkin lonceng kecil dan mengalungkan bel itu ke leher setiap kucing sehingga kita dapat mendengar mereka datang dan memiliki waktu untuk bersembunyi di lubang-lubang kita."
Raja menoleh ke wazir kedua dan berkata," Bagaimana menurut kamu saran kolegamu?"
"Saya kira itu saran buruk," ujar wazir kedua. "Setelah mengumpulkan semua bel yang dibutuhkan, lalu siapa yang berani memasang ke leher bahkan anak kucing terkecil sekalipun, apalagi tipe kucing jalanan veteran?"
"Dalam opini saya, kita harus bermigrasi dari kota dan tingga di desa selama setahun hingga orang-orang kota berpikir bahwa mereka dapat mulai mengeluarkan kucing karena tak punya sumber buruan. Orang-orang akan menendang mereka keluar, atau mungkin membunuh para kucing. Mereka akan tersebar dan hidup liar dan tak lagi cocok untuk kucing rumahan. Lalu kita dapat pulang kembali dengan aman ke kota dan hidup selamanya tanpa cemas terhadap kucing."
Raja, sepertinya masih tak puas dengan jawaban wazir kedua menolah lagi ke wazir ketiga, yang terbijak. "Bagaimana dengan ide tersebut?"
"Gagasan yang sangat menyedihkan," balas wazir ketiga, "Jika kita meninggalkan kota dan tinggal di desa bagaimana kita pastikan bahwa kucing-kucing itu akan menghilang dalam satu tahun? Bagaimana pula dengan kesulitan yang akan kita alami? Kehidupan di alam penuh dengan binatang liar yang juga suka makan tikus, dan mereka bisa melakukan hal lebih buruk ketimbang yang dilakukan kucing."
"Kamu benar tentang itu," ujar sang raja. "Jadi apa yang kamu pikir seharusnya dilakukan?"
"Saya dapat menyarankan satu rencana yang paling masuk akal. Raja harus memanggil seluruh tikus di kota dan kawasan sub urban dan memerintahkan mereka membangun lorong di dalam rumah-rumah orang terkaya yang menghubungkan ke semua ruang dalam rumah," ujar wazir ketiga.
"Lalu kita akan masuk ke terowongan itu, tapi kita tak akan menyentuh makanan manusia. Alih-alih kita konsentrasi merusak pakaian, tempat tidur dan karpet mereka. Ketika melihat kerusakan itu, ia akan berpikir. 'Wah satu kucing sepertinya tak bisa mengatasi banyak tikus di sini!' Dan ia pasti akan menambah satu lagi kucing piaraan," ujar Wazir.
"Begitu kucing ditambah, kita pun menambah jumlah kerusakan, benar-benar merobek pakaian-pakaian mereka. Ia pasti akan menambah satu lagi kucing, lalu kita tambah lagi kerusakan hingga tiga kali lipat. Itu seharusnya membuat mereka berhenti dan berpikir 'Hei, kerusakan hanya sedikit ketika aku memiliki satu kucing. Makin banyak kucing, semakin banyak tikus,' seolah-olah itulah yang terlihat" ujar wazir ketiga lagi.
"Jadi ia akan mencoba sebuah eksperimen. Ia akan menyingkirkan satu kucingnya. Saat itu pula kita akan turunkan jumlah kerusakan, menjadi dua pertiga saja. Si pemilik pasti berpikir, 'Aneh sekali,'. Ia lalu menyingkirkan satu lagi kucing lain. Lagi, kita pun kurangi kerusakan hingga hanya sepertiganya. Ia pun akan terdorong untuk menyingkirkan satu lagi kucing tersisa.
Saat itu pula kita hentikan aksi dan tidak merusak apa pun. Ia akan menemukan hal besar. 'Wah ternyata bukan tikus,'. Ia pasti bakal pergi ke para tetangga kaya lain untuk memberi tahu itu. Karena ia adalah orang terkaya dan dihormati maka semua akan mempercayainya dan mulai membuang kucing-kucing mereka ke jalan atau bahkan membunuh mereka. Kemudian setiap kali melihat kucing, mereka akan mengejar dan membunuhnya."
Raja Mahraz pun mengikuti saran wazir ketiga. Butuh waktu tak terlalu lama hingga tidak satupun kucing berada di kota tersebut. Bila mereka melihat lubang di pakaian mereka, orang-orang tetap yakin bahwa itu adalah ulah kucing.
Kini, jika tu terjadi, mereka pasti berkata, "Seekor kucing pasti menyelinap ke rumah tadi malam. Seekor kucing pasti mengendap-endap di kota tadi malam." Alhasil, dengan strategi itu, para tikus benar-benar berhasil membebaskan diri dari warisan rasa takut turun-temurun terhadap kucing.
Disadur dari: www.republika.co.id
REPUBLIKA.CO.IDKisah macam 'Kancil Mencuri Timur' juga dikenal di dunia Arab. Salah satu buku dongeng binatang yang dikenal Muslim sejak lama ialah "Kalila wa Dimna". Buku ini adalah salah satu karya terlaris selama dua ribu tahun dan hingga kini masih digemari banyak orang di dunia Arab.
Buku yang berarti Kalila dan Dimna--dinamai dari dua anjing hutan yang menjadi karakter utama--ditulis sebagai panduan dan instruksi pelayanan sipil. Kisah-kisahnya begitu menghibur hingga diterima di setiap kelas, menjadi dongeng rakyat di dunia Muslim. Orang Arab membawa kisah-kisah itu ke Spanyol, di sana buku tersebut diterjemahkan ke Bahasa Spanyol Tua, pada abad ke-13. Saat diterjemahkan ke dalam Bahasa Italia, itu merupakan kali pertama buku tampil dalam versi cetak, setelah mesin cetak ditemukan.
Kalila dan Dimna aslinya ditulis dalam Bahasa Sansekerta, diperkirakan dari Kashmir pada abad ke-4. Dalam Sansekerta buku ini disebut Panchatantra atau "Lima Wacana". Buku tersebut sebenarnya ditulis untuk tiga pangeran muda yang telah membuat guru mereka putus asa dan sang ayah terganggu.
Raja takut memercayakan kerajaannya ke para putranya yang tak mampu menguasai pelajaran paling mendasar. Raja mendatangi wazirnya yang bijaksana untuk meminta bantuan dan si wazir pun menulis Panchatantra. Buku itu mengungkapkan kebijaksanaan besar dalam kisah-kisah fabel binatang yang mudah dicerna.
Enam bulan kemudian para pangeran sudah berada di jalan kebijaksanaan. Ketika raja mangkat, mereka menggantikan kepemimpinan ayahnya dengan penuh keadilan.
Dua ratus tahun kemudian, seorang shah Persia mengutus dokter pribadinya, Burzoe, ke India untuk menemukan jenis herbal tertentu yang konon mampu menghadirkan kehidupan abadi bagi mereka yang memakannya. Alih-alih, Burzoe malah membawa satu salinan Panchatantra, yang ia klaim sama baiknya dengan herbal ajaib karena ia menghadirkan kebijaksanaan besar ke pembacanya.
Shah memerintahkan Burzoe mengalihbahasakan ke Pehlavi, bentuk kuno Bahasa Persia. Ia begitu menyukai buku itu hingga menyimpannya dalam satu ruang khusus di dalam istananya.
Tiga ratus tahun berselang, setelah Muslim menguasai Persia dan Timur Dekat, seorang Persia yang telah memeluk Islam, bernama Ibnu al Mukaffah, menemukan buku itu dalam bahasa Pehlavi terjemahan Burzoe. Ia pun mengalihbahasakan lagi ke Arab dengan gaya penuturan begitu mengalir hingga sampai sekarang orang masih menganggapnya model prosa asli Arab.
Keberadaan buku tersebut menyebar ke berbagai negara termasuk Yunani, yang menjadi cikal sumber terjemahan versi berbagai bahasa di Eropa, mulai Latin, Slavia dan Jerman. Sementara versi Bahasa Arabnya juga diterjemahkan ke Bahasa Ethopia, Suriah, Persia, Turki, Melayu, Jawa, Laos dan Siam. Pada abad ke-19 Kalila wa Dimna diterjemahkan ke Hindustan, dengan demikian melengkapi siklus yang dimulai 1.700 lalu di Kashmir.
Tidak semua versi adalah terjemahan sederhana. Buku itu sudah diperluas, diperpendek, mengalami modifikasi, penambahan dan penghilangan figur serta dipermak oleh sejumlah penerjemah dengan jumlah tak terhitung.
Salah satu kisah di bawah ini tidak termasuk dalam versi Sansekerta, juga tak ada di sebagian besar manuskrip Arab salinan Ibnu al Mukaffah, namun yang menarik ia telah memasuki daratan Eropa--masih dianggap dongeng dari Arab--dan menjadi kisah cukup terkenal di sana, berjudul "Memasang Bel ke Leher Kucing.
Cerita serupa mungkin bisa ditemukan di antologi dongeng lain, juga dalam Brothers Grimm. Bedanya, tikus-tikus Arab menyelesaikan masalah mereka jauh lebih tajam ketimbang sepupu mereka di barat. Berikut kisahnya.
Memasang Bel ke Leher Kucing
"Dahulu di tanah para Brahma terdapatlah sebuah rawa bernama Dawran yang membentang di semua penjuru dengan jarak ribuan kilometer. Di tengah rawa tersebut ada sebuah kota bernama Aydazinum. Kota itu memiliki banyak daya tarik, keistimewaan dan penduduknya sangat sejahtera hingga bisa mendapatkan apa pun yang mereka mau.
Dalam kota ada seekor tikus bernama Mahraz, ia memimpin seluruh tikus yang hidup di kota itu dan juga desa-desa di pinggir kota. Ia memiliki tiga wazir yang siap memberi nasehat untuk bermacam urusan.
Suatu hari para wazir berkumpul di hadapan raja tikus untuk mendiskusikan berargam masalah. Di tengah perbincangan, raja berkata, "Apakah mungkin membebaskan diri kita dari teror turun-menurun yang kita dan juga nenek moyang kita rasakan terhadap kucing?"
"Meski kita hidup nyaman dan memiliki banyak kesenangan dalam hidup, ketakutan kita terhadap Kucing telah melenyapkan semua kenikmatan tersebut. Saya harap kalian bisa memberi saran bagaimana mengatasi masalah ini. Apa yang kalian pikir harus kita lakukan?"
"Saran saya," ujar wazir pertama, "adalah mengumpulkan sebanyak mungkin lonceng kecil dan mengalungkan bel itu ke leher setiap kucing sehingga kita dapat mendengar mereka datang dan memiliki waktu untuk bersembunyi di lubang-lubang kita."
Raja menoleh ke wazir kedua dan berkata," Bagaimana menurut kamu saran kolegamu?"
"Saya kira itu saran buruk," ujar wazir kedua. "Setelah mengumpulkan semua bel yang dibutuhkan, lalu siapa yang berani memasang ke leher bahkan anak kucing terkecil sekalipun, apalagi tipe kucing jalanan veteran?"
"Dalam opini saya, kita harus bermigrasi dari kota dan tingga di desa selama setahun hingga orang-orang kota berpikir bahwa mereka dapat mulai mengeluarkan kucing karena tak punya sumber buruan. Orang-orang akan menendang mereka keluar, atau mungkin membunuh para kucing. Mereka akan tersebar dan hidup liar dan tak lagi cocok untuk kucing rumahan. Lalu kita dapat pulang kembali dengan aman ke kota dan hidup selamanya tanpa cemas terhadap kucing."
Raja, sepertinya masih tak puas dengan jawaban wazir kedua menolah lagi ke wazir ketiga, yang terbijak. "Bagaimana dengan ide tersebut?"
"Gagasan yang sangat menyedihkan," balas wazir ketiga, "Jika kita meninggalkan kota dan tinggal di desa bagaimana kita pastikan bahwa kucing-kucing itu akan menghilang dalam satu tahun? Bagaimana pula dengan kesulitan yang akan kita alami? Kehidupan di alam penuh dengan binatang liar yang juga suka makan tikus, dan mereka bisa melakukan hal lebih buruk ketimbang yang dilakukan kucing."
"Kamu benar tentang itu," ujar sang raja. "Jadi apa yang kamu pikir seharusnya dilakukan?"
"Saya dapat menyarankan satu rencana yang paling masuk akal. Raja harus memanggil seluruh tikus di kota dan kawasan sub urban dan memerintahkan mereka membangun lorong di dalam rumah-rumah orang terkaya yang menghubungkan ke semua ruang dalam rumah," ujar wazir ketiga.
"Lalu kita akan masuk ke terowongan itu, tapi kita tak akan menyentuh makanan manusia. Alih-alih kita konsentrasi merusak pakaian, tempat tidur dan karpet mereka. Ketika melihat kerusakan itu, ia akan berpikir. 'Wah satu kucing sepertinya tak bisa mengatasi banyak tikus di sini!' Dan ia pasti akan menambah satu lagi kucing piaraan," ujar Wazir.
"Begitu kucing ditambah, kita pun menambah jumlah kerusakan, benar-benar merobek pakaian-pakaian mereka. Ia pasti akan menambah satu lagi kucing, lalu kita tambah lagi kerusakan hingga tiga kali lipat. Itu seharusnya membuat mereka berhenti dan berpikir 'Hei, kerusakan hanya sedikit ketika aku memiliki satu kucing. Makin banyak kucing, semakin banyak tikus,' seolah-olah itulah yang terlihat" ujar wazir ketiga lagi.
"Jadi ia akan mencoba sebuah eksperimen. Ia akan menyingkirkan satu kucingnya. Saat itu pula kita akan turunkan jumlah kerusakan, menjadi dua pertiga saja. Si pemilik pasti berpikir, 'Aneh sekali,'. Ia lalu menyingkirkan satu lagi kucing lain. Lagi, kita pun kurangi kerusakan hingga hanya sepertiganya. Ia pun akan terdorong untuk menyingkirkan satu lagi kucing tersisa.
Saat itu pula kita hentikan aksi dan tidak merusak apa pun. Ia akan menemukan hal besar. 'Wah ternyata bukan tikus,'. Ia pasti bakal pergi ke para tetangga kaya lain untuk memberi tahu itu. Karena ia adalah orang terkaya dan dihormati maka semua akan mempercayainya dan mulai membuang kucing-kucing mereka ke jalan atau bahkan membunuh mereka. Kemudian setiap kali melihat kucing, mereka akan mengejar dan membunuhnya."
Raja Mahraz pun mengikuti saran wazir ketiga. Butuh waktu tak terlalu lama hingga tidak satupun kucing berada di kota tersebut. Bila mereka melihat lubang di pakaian mereka, orang-orang tetap yakin bahwa itu adalah ulah kucing.
Kini, jika tu terjadi, mereka pasti berkata, "Seekor kucing pasti menyelinap ke rumah tadi malam. Seekor kucing pasti mengendap-endap di kota tadi malam." Alhasil, dengan strategi itu, para tikus benar-benar berhasil membebaskan diri dari warisan rasa takut turun-temurun terhadap kucing.
Disadur dari: www.republika.co.id
Label:
Berita Bahasa dan Sastra
|
0
komentar
Di Perjalanan Solo-Yogyakarta, Pagi Hari
terkenang Makku
Bus ini terus melaju meninggalkan engkau; memancang jarak antara kita. Kaca jendela memburam, embun beternak dengan riang; rahasia masih membias di kantung-kantung mata. Pada setiap penglihatan, pada semua gerakan tangan, pada seluruh isyarat tubuh. Juga selaksa kenangan yang membayang di kabut yang perlahan lindap sudah. Kupasrahkan semua padaMu.
Ada cinta yang tak bisa hilang. Ada selalu di hatiku untukmu.
Solo, 2011
Catatan: sajak ini kutulis sewaktu udara benar-benar membuat seluruh tubuhku mengkerut. Dan dalam waktu yang membuat malas itu, aku ingat seorang wanita, Makku. Doaku untukmu selalu.
Label:
Puisi
|
0
komentar
Di Dermaga Padang Bae, Sesaat Sebelum Berangkat
: Untuk M
/1/
Kapal belum akan berangkat, Kawan. Tengoklah ke bawahmu, beribu-ribu buih lautan menarikan tarian darwis. Bau asinan dan acar-acar air dan bangkai plastik yang tak mau terurai; tak pandai bicara. Seorang wanita tua dengan topi, rambutnya tergerai liar ditingkah angin, mengumpulkan botol plastik air mineral setengah terisi. Mengeluarkan isinya. Mungkin mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan juga. Dan suara-suara parau pengamen yang mengiring tanyanya, sudah sampai mana kita menyiang kesempatan? Di sini, di kursi penumpang, berulang-ulang tanyaku berdetas nyaring, sudah sampai mana kita mengenal kesempatan?
Dan kemarau tak lagi terlihat. Di langit, awan melukiskan rimbunan pohonan. Meneduhi jalanan. Di pinggir dermaga, di tiang-tiang betonnya, pemancing memasang umpan; aku memasang tanya juga: bisakah kupasang kau sebagai umpanku lagi, Sayang?
Ah, peluhku jatuh dan hilang di balik air ludah penumpang mabuk. Di asamnya lambung. Liur basah dan wajah tirus pucat. Makanan yang terserak di meja: kacang rebus yang setengah kosong, biji-biji kuaci, wafer, dan roti; bungkus nasi meringkuk sepi di samping keranjang sampah. Kuteguk botol mineral terakhirku, kapal masih belum berangkat.
/2/
Puluhan suara menderas lewat. Lewat saja. Lalu mata-mata yang terpejam. Tangan-tangan yang menggenggam. Aku tahu, tanganku tak lagi dapat menggenggam semua, juga engkau, Sayang. Dari dingin yang mengelabui, dari udara yang kemarau, dari sinar mentari yang temaram. Tali sauh pun diangkat. Seorang di balik kemudi, dengan kendali, menutup ujung kapal itu. Kapal belum akan berangkat, Saudara. Masih ada seberkas cahaya yang hendak ditunggu. Ia menginap di pelupuk mata. Ujung-ujung atap perlahan hilang. Juga pasir putih. Juga bibir pantai. Juga tangan-tangan yang lemah melambai-lambai. Tak jelas lagi, tangan itu milikmu atau milik pedagang asongan.
Bali, 29 Maret 2011
/1/
Kapal belum akan berangkat, Kawan. Tengoklah ke bawahmu, beribu-ribu buih lautan menarikan tarian darwis. Bau asinan dan acar-acar air dan bangkai plastik yang tak mau terurai; tak pandai bicara. Seorang wanita tua dengan topi, rambutnya tergerai liar ditingkah angin, mengumpulkan botol plastik air mineral setengah terisi. Mengeluarkan isinya. Mungkin mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan juga. Dan suara-suara parau pengamen yang mengiring tanyanya, sudah sampai mana kita menyiang kesempatan? Di sini, di kursi penumpang, berulang-ulang tanyaku berdetas nyaring, sudah sampai mana kita mengenal kesempatan?
Dan kemarau tak lagi terlihat. Di langit, awan melukiskan rimbunan pohonan. Meneduhi jalanan. Di pinggir dermaga, di tiang-tiang betonnya, pemancing memasang umpan; aku memasang tanya juga: bisakah kupasang kau sebagai umpanku lagi, Sayang?
Ah, peluhku jatuh dan hilang di balik air ludah penumpang mabuk. Di asamnya lambung. Liur basah dan wajah tirus pucat. Makanan yang terserak di meja: kacang rebus yang setengah kosong, biji-biji kuaci, wafer, dan roti; bungkus nasi meringkuk sepi di samping keranjang sampah. Kuteguk botol mineral terakhirku, kapal masih belum berangkat.
/2/
Puluhan suara menderas lewat. Lewat saja. Lalu mata-mata yang terpejam. Tangan-tangan yang menggenggam. Aku tahu, tanganku tak lagi dapat menggenggam semua, juga engkau, Sayang. Dari dingin yang mengelabui, dari udara yang kemarau, dari sinar mentari yang temaram. Tali sauh pun diangkat. Seorang di balik kemudi, dengan kendali, menutup ujung kapal itu. Kapal belum akan berangkat, Saudara. Masih ada seberkas cahaya yang hendak ditunggu. Ia menginap di pelupuk mata. Ujung-ujung atap perlahan hilang. Juga pasir putih. Juga bibir pantai. Juga tangan-tangan yang lemah melambai-lambai. Tak jelas lagi, tangan itu milikmu atau milik pedagang asongan.
Bali, 29 Maret 2011
Label:
Puisi
|
0
komentar
Langganan:
Entri (Atom)

